tasawuf dan pengertian nya
Rangkuman
Harun
Nasution mengatakan bahwa tasawuf adalah jalan menuju Tuhan. Kalimat memuat dua kata kunci penting,
yaitu jalan dan tujuannya Tuhan. Sebagai jalan, tasawuf adalah salah satu jalan
mengenal Tuhan. Jalan mengenal Tuhan bisa juga diartikan, jalan mendekatkan
diri kepadaNya dan tujuan tasawuf yaitu menuju Tuhan.. Ada empat kata kunci yang perlu digarisbawahi
tentang tasawuf yang dikemukakan oleh Mulyadhi di atas, yaitu rohani, akhirat,
esoterik, dan penafsiran batin. Keempat kata kunci ini menjelaskan bahwa
tasawuf bukanlah wilayah empirik, orientasinya jangka panjang, dan untuk
memahaminya perlu pemikiran yang mendalam dan perasaan yang halus.Dalam
pandangan tarekat Jalaluddin Rumi, seleksi ini sesuai dengan metode seleksi
Allah terhadap Rasulnya Muhammad saw. Berdasarkan Q.S. al-Baqarah/2: 151.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala
berfirman:
كَمَاۤ اَرْسَلْنَا فِيْکُمْ رَسُوْلًا
مِّنْکُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْکُمْ وَيُعَلِّمُکُمُ الْكِتٰبَ
وَا لْحِکْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ ۗ
"Sebagaimana Kami telah
mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan
ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dan
Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui."
Ayat tersebut di atas mendahulukan kata
―tazkiyyah‖ kemudian ta`lîm. Ini artinya, sebelum mulai belajar, terlebih
dahulu dilakukan pembersihan jiwa. Pembersihan inilah yang dinilai sebagai
metode seleksi calon sâlik. Sistem ini bagaikan orang mau salat harus terlebih
dahulu bersuci. Ketaatan sâlik terhadap mursyid bagaikan ketaatan sahabat
terhadap Nabi Muhammad saw. Bisa digambarkan bahwa kata sami`nâ wa atha`nâ, sebagai
simbol kesetiaan sâlik terhadap mursyid
Kehadiran tasawuf sering dihubungkan
dengan hadis yang populer tentang ada tiga zaman terbaik sepanjang zaman, yaitu
zaman Rasul, zaman sahabat, dan zaman tabi`in. Pada salah satu hadis: Artinya,
“Sebaik-baik zaman adalah zamanku (Rasul), kemudian zaman setelah itu
(sahabaat), dan zaman setelahnya (tabi`in)” (H.R. Bukhari dan Muslim)
.
Sejarah Tasawuf
Tasawuf
sebagai gerakan apalagi disiplin ilmu belum lahir pada
zaman
Rasulullah saw. Walaupun demikian, menurut sufi Imam Junaid
pada
zaman dulu tidak ada tasawuf, tapi banyak sufinya. Sekarang banyak
tasawuf,
tapi tidak ada sufinya. Artinya, zaman Rasul banyak pengamal tasawuf, tetapi
mereka tidak disebut sufi. Pendapat ini sejalan dengan Abdul Qadir Isa yang
mengatakan bahwa sahabat dan tabi`in adalah sufi yang sesungguhnya. Sekarang
banyak orang berteori tentang tasawuf, tapi tidak ada pengamalnya.Tasawuf
sebagai gerakan maupun institusi moral pada zaman Rasul tidak ada dan tidak
dibutuhkan menurut `Abdul Qadir Isa (2005: 7) karena sahabat masih banyak orang
yang bertakwa. Ungkapan ini dapat dipahami bahwa kehadiran tasawuf di saat
banyak orang yang menjauh dari jalan Allah
Terminal
terakhir perjalanan itu adalah tempat di mana bisa bertemu dengan Tuhan.
Bertemu dengan Tuhan, jangan dipahami secara fisik, walaupun ada yang
berpendapat kelak di akhirat orang yang masuk surga dapat bertemu denganNya.
Karena tasawuf adalah konsepnya di dunia, maka bertemu dengan Tuhan dapat
dipahami secara
spiritual. Kehadiran tasawuf dengan demikian di luar
zaman terbaik, yaitu zaman tabi`in tabi`in. Zaman tabi`in-tabi`in mulai abad ke-3
H./10 M.Pada masa tabi`in tabi`in bermunculanlah ilmu-ilmu keislaman, seperti
hadis, fiqh, tauhid, usul fikih, dan sebagainya. Hal ini yang mendorong ahli
zuhud menulis buku tasawuf menurut `Abdul Qadir Isa. Kehadiran tasawuf sebagai
kajian ilmu bukanlah reaksi terhadap pengaruh spiritual yang melemah dalam
Islam seperti yang disangkakan oleh orientalis.
Kehadiran tasawuf sebagai upaya
menyempurnakan agama dari segala aspeknya (Isa, 2005: 9-10).bahwa tasawuf tidak
bisa disamakan dengan kebiksuan dalam agama Budha, kerahiban dalam agama Hindu,
dan kependetaan dalam agama Kristen sebagaimana yang disebut oleh sebagian
orientalis (Isa, 2005: 11). Mereka itu menyebut tasawuf Budha, tasawuf Hindu,
tasawuf Kristen, tasawuf Persia, dsb.
Ahmad
Fuad Said (1976: 111) mengatakan bahwa kaifiat zikir
Naqsyabandiyah
yang diajarkan oleh Syeikh Abdul Wahab Rokan sbb:
1.
Menghimpun segala pengenalan dalam hati;
2.
Menghadapkan diri ke hadapan Allah Swt.
3.
Membaca istigfar, sekurang-kurangnya tiga kali;
4.
Membaca al-fatihah dan surah al-ikhlas;
5.
Menghadirkan roh syeikh tarikat naqsyabandiyah;
6.
Menghadiahkan pahalanya kepada syeikh tarekat Naqsyabandiyah;
7.
Memandang robithah;
8.
Mematikan diri sebelum mati;
9.
Munajat dengan menyebut, ―ilahi anta maqsudi wa ridaka mathlubi‖
10.
Berzikir dengan mengucapkan kata-kata ―Allah‖ dalam hati,
memejamkan
mata, bersimpuh kiri, mengunci gigi, meningkatkan lidah ke langit-langit mulut,
dan menutup muka dengan selubung.Penting untuk dijelaskan maksud dari robithah.
Robithah adalah mursyid yang mengajari zikir. Murid menghadirkan dalam pikiran
dan hatinya dengan wajah yang memancarkan cahaya, sambil berharap cahaya
Komentar
Posting Komentar