ontologi kimia dan sains islam

Ontologi Kimia dan sains islam

Oleh Alwi

alwibtr070900@gmail.com

 

ABSTRAK

Ontology is built from the greek roots “Ontos”which means what exists and “Logos” which mens the study. Globally, the term ontology can be interpreted as a study of being and by extension of existence. Ontology studies is the actual state of something, not a temporary state that is always changing. Ontology is an analysis of material objects from science, namely empirical matters that discuss about what you want to know, analyze about the objects studied by science, what is the actual form of the object, how the relationship between these objects with human capture (for example: thinking, feeling and sensing) that produces knowledge.

Keywoard:  Ontology Kimia dan sains islam

ABSTRAK

Ontologi merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan yaitu sisi yang mengatur seluruh kegiatan pendidikan. Dengan kata lain, ontologi membahas apa yang ingin diketahui mengenai teori tentang “ada“ dengan perkataan lain bagaimana hakikat obyek yang ditelaah sehingga membuahkan pengetahuan. Secara ontologis, pendidikan Islam merupakan hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk berpikir, merasa, mengindra, dan bertindak. Selanjutnya pendidikan sebagai usaha pengembangan potensi-potensi diri manusia, dijadikan sarana untuk mendidik dan mengembangkannya. Ontologi pendidikan Islam menyelami hakikat dari pendidikan Islam, kenyataan dalam pendidikan Islam dengan segala pola organisasi yang melingkupinya, meliputi hakikat pendidikan Islam dan ilmu pendidikan Islam, hakikat tujuan pendidikan Islam, hakikat manusia sebagai subjek pendidikan yang ditekankan kepada pendidik dan peserta didik, dan hakikat kurikulum pendidikan Islam.

Kata Kunci :Ontologi Kimia dan sains islam

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang objek telaahnya adalah dunia empiris dan proses pendapatkan pengetahuannya sangat ketat yaitu menggunakan metode ilmiah. Ilmu menggabungkan logika deduktif dan induktif, dan penentu kebenaran ilmu tersebut adalah dunia empiris yang merupakan sumber dari ilmu itu sendiri. Pengetahuan adalah semua yang diketahui. Ada orang bertanya, mengapa jeruk selalu berbuah jeruk, tidak pernah berbuah bakso misalnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini orang tidak dapat lagi mengadakan penelitian empiris karean objek yang hendak diketahui itu sebenarnya pada bibit atau pohon jeruk itu. Lalu, bagaimana cara mengetahuinya, bagaimana menjawab pertanyaan tadi? Dengan berpikir, dan hanya dengan berpikir. Kita menemukan jawaban jeruk selalu berbuah jeruk karena ada hukum yang mengatur.

Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Berbedanya cara dalam mendapatkan pengetahuan tersebut serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut membedakan antara jenis pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran. Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan melalui suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikannya dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Pengetahuan banyak jenisnya, salah satunya adalah ilmu.[1]

A.    Ontologi Kimia

Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani . Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti thales plato dan aristoteles. penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Hakikat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:

1.     kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?

  1. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.

Sains islam

  Sains Islam adalah konstruksi sains yang berbasis wahyu (al-Qur’an dan as-Sunah). Karena itu, Agus Purwanto menawarkan 800 ayat-ayat kauniyah dalam al-Qur’an untuk dapat dilakukan analisis teks, yang kemudian dilanjutkan dengan observasi dan eksperimentasi fenomena alam secara langsung dengan menggunakan metode ilmiah

Menurut al-Qur’an, sains hanyalah alat untuk mencapai tujuan akhir. Pemahaman seseorang terhadap alam harus mampu membawa kesadarannya kepada Allah Yang Maha Sempurna dan Maha Tak Terbatas

Di sinilah letak perbedaan antara konsep Islam dan Barat dalam menyikapi objek ilmu. Bagi Islam objek ilmu itu meliputi alam fisik dan metafisik. Sedangkan Barat hanya mengakui terbatas pada alam fisik saja. Di sisi lain, Islam mengakui bahwa ilmu itu bersumber dari akal atau rasio manusia

Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni Monisme, Dualisme, Materialisme, Idealisme, Agnostisisme Monisme: aliran yang mempercayai bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada adalah satu saja, baik yang asa itu berupa materi maupun rohani yang menjadi sumber dominan dari yang lainnya. Para filosof pra-Socrates seperti Thales, Demokritos, dan Anaximander termasuk dalam kelompok Monisme, selain juga Plato dan Aristoteles. Sementara filosof Modern seperti  Kant dan Hegel adalah penerus kelompok Monisme, terutama pada pandangan Idealisme mereka. Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan-lapangan penyelidikan filsafat yang paling kuno. Pertama kali diperkenalkan oleh filosof Yunani bernama Thales atas pernungannya terhadap air yang terdapat dimana-mana, dan sampai pada kesimpulan bahwa “air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu”. Yang penting bagi kita bukanlah mengenai kesimpulannya tersebut melainkan pendiriannya bahwa mungkin segala sesuatu berasal dari satu substansi saja.

Dualisme: kelompok ini meyakini sumber asal segala sesuatu terdiri dari dua hakikat, yaitu materi(jasad) dan jasmani(spiritual). Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama abadi dam azali. Perhubungan antara keduanya itulah yang menciptakan kehidupan dalam alam ini. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini ialah dalam diri manusia. Descartes adalah contoh filosof Dualis dengan istilah dunia kesadaran (rohani) dan dunia ruang (kebendaan). Aristoteles menamakan kedua hakikat itu sebagai materi dan forma (bentuk yang berupa rohani saja). Umumnya manusia dengan mudah menerima prinsip dualisme ini, karena kenyataan lahir dapat segera ditangkap panca indera kita, sedangkan kenyataan batin dapt segera diakui adanya dengan akal dan perasaan hidup.

Materialisme: aliran ini menganggap bahwa yang ada hanyalah materi dan bahwa segala sesuatu yang lainnya yang kita sebut jiwa atau roh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Menurut pahan materialisme bahwa jiwa atau roh itu hanyalah merupakan proses gerakan kebendaan dengan salah satu cara tertentu. Materialisme terkadang disamakan orang dengan naturalisme.Namun sebenarnya terdapat perbedaan antara keduanya. Naturalisme merupakan aliran filsafat yang menganggap bahwa alam saja yang ada, yang lainnya di luar alam tidak ada. (Tuhan yang di luar alam tidak ada). Sedangkan yang dimaksud alam (natural) disana ialah segala-galanya meliputi benda dan roh. Sebaliknya materialisme menganggap roh adalah kejadian dari benda, jadi tidak sama nilainya dengan benda.

Filsafat Yunani yang pertama kali muncul juga berdasarkan materialisme, mereka disebut filsafat alam (natuur filosofie). Mereka menyelidiki asal-usul kejadian alam ini pada unsur-unsur kebendaan yang pertama. Thales menganggap bahwa unsur asal itu air. Anaximandros menganggap bahwa unsur asal itu apeiron yakni suatu unsur yang tak terbatas. Anaximenes menganggap bahwa unsur asal itu udara. Dan tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Demokritos menggap bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya tak dapat dihitung dan sangat halus. Atom-atom itulah yang menjadi asal kejadian peristiwa alam. Pada Demokritos inilah tampak pendapat materialisme klasik yang lebih tegas.

Idealisme: idealisme merupakan lawan dari materialisme yang juga dinamakan spiritualisme. Aliran menganggap bahwa hakikat kenyataan yang beraneka warna itu semua berasal dari roh (sukma) atau yang sejenis dengan itu. Intinya sesuatu yang tidak berbentuk dan yang tidak menempati ruang. Menurut aliran ini materi atau zat itu hanyalah suatu jenis daripada penjelmaan roh. Alasan yang terpenting dari aliran ini adalah “manusia menganggap roh lebih berharga, lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manusia. Roh dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya, sehingga materi hanyalah badannya, bayangan atau penjelmaan saja. Agnostisisme: pada intinya Agnostisisme adalah paham yang mengingkari bahwa manusia mampu mengetahui hakikat yang ada baik yang berupa materi ataupun yang ruhani. Aliran ini juga menolak pengetahuan manusia tentang hal yang transenden. Contoh paham Agnostisisme adalah para filosof Eksistensialisme, seperti Jean Paul Sartre yang juga seorang Ateis. Sartre menyatakan tidak ada hakikat ada (being) manusia, tetapi yang ada adalah keberadaan (on being)-nya.

Ontologi Ilmu Kimia Ilmu kimia adalah cabang ilmu sains yang mempelajari struktur materi, sifat-sifat materi, perubahan suatu materi menjadi materi lain, serta energi yang menyertai perubahan materi. Ilmu kimia lahir dari keinginan para ahli kimia untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan apa dan mengapa tentang sifat materi yang ada di alam, yang masing-masing akan menghasilkan fakta dan pengetahuan teoritis tentang materi yang kebenarannya dapat dijelaskan dengan logika matematika. Materi adalah segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Susunan materi mencakup komponen-komponen pembentuk materi dan perbandingan tiap komponen tersebut. Struktur materi mencakup struktur partikel-partikel penyusun suatu materi atau menggambarkan bagaimana atom-atom penyusun materi tersebut saling berikatan. Sifat materi mencakup sifat fisis (wujud dan penampilan) dan sifat kimia. Sifat suatu materi dipengaruhi oleh: susunan dan struktur dari materi tersebut. Perubahan materi meliputi perubahan fisis/fisika (wujud) dan perubahan kimia (menghasilkan zat baru). Energi yang menyertai perubahan materi sama menyangkut banyaknya energi yang menyertai sejumlah materi dan asal-usul energi itu. Ini berarti bahwa aspek ontologi dari ilmu kimia adalah:  Konsep kimia, yang berarti kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, perubahan serta energi yang menyertai perubahan suatu materi ü Objek studi dari ilmu kimia adalah zat atau materi.  Ontologi Pendidikan Kimia Secara umum, ontologi dalam pendidikan kimia ialah kegiatan membimbing siswa untuk memahami realita di bidang kimia dan membina kesadaran tentang kebenaran yang berpangkal atas realita dalam bidang kimia yang merupakan stimulus untuk menyelami kebenaran yang ada.Dalam jenjang sekolah menengah atas, Kimia menjadi salah satu cabang ilmu sains yang mulai dipelajari lebih mendalam. Ilmu kimia itu sendiri juga terbagi menjadi beberapa cabang, diantaranya: Kimia analitik, yakni ilmu kimia yang mempelajari cara menganalisis suatu zat baik komposisi maupun strukturnya  Kimia organik, yakni ilmu kimia yang mempelajari struktur, sifat, proses dan reaksi senyawa organic  Kimia anorganik, yaitu ilmu kimia yang mempelajari tentang sifat dan reaksi senyawa anorganik , Kimia inti, yaitu ilmu kimia yang mempelajari tentang bagaimana proses terjadinya reaksi inti Kimia teori, yaitu ilmu kimia yang mengkaji kimia dari aspek teori dengan dukungan ilmu matematika dan fisika.  Kimia fisik, yaitu ilmu kimia yang mempelajari sifat-sifat fisik pada proses kimia. Biokimia, yaitu ilmu kimia yang mempelajari sifat, proses dan aktivitas kimiawi dalam sel hidup (organisme).[2]

 

B.    Ruang Lingkup Ontologi Kimia

Dikatakan ontologi bersahaja sebab segala sesuatu dipandang dalam keadaan sewajarnya dan apa adanya. Dikatakan ontologi kuantitatif karena dipertanyakannya mengenai tunggal atau jamaknya dan dikatakan ontologi kualitatif juga berangkat dari pertanyaan: apakah yang merupakan jenis kenyataan itu. Sedangkan ontologi monistik adalah jika dikatakan bahwa kenyataan itu tunggal adanya; keanekaragaman, perbedaan dan perubahan dianggap semu belaka. Pada gilirannya ontologi monistik melahirkan monisme atau idealisme dan materialisme Ada beberapa pertanyaan ontologis yang melahirkan aliran-aliran dalam filsafat. Misalnya pertanyaan: Apakah yang ada itu? (what is being?), bagaimanakah yang ada itu (how  is being?) dan di manakah yang ada itu? (where is being?). Apakah yang ada itu (what is being ?) Dalam memberikan jawaban masalah ini lahir empat aliran filsafat, yaitu: monisme, dualisme, idealisme dan agnotisme. Aliran monisme. Aliran ini berpendapat, bahwa yang ada itu hanya satu. Bagi yang berpendapat bahwa yang ada itu serba spirit, ideal, serba roh, maka dikelompokkan dalam aliran monisme-idealisme. Plato adalah tokoh filosuf yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini, karena ia menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan yang sebenarnya.[3]

Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Sejak dini dalam pikiran Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan ontologis, sebagaimana Thales ketika ia merenungkan dan mencari apa sesungguhnya hakikat ”yang ada” (being) itu, yang pada akhirnya ia berkesimpulan, bahwa asal usul dari segala sesuatu (yang ada) itu adalah air. Ontologi merupakan azas dalam menetapkan batas ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan serta penafsiran tentang hakikat realitas (metafisika) . Ontologi meliputi permasalahan apa hakikat ilmu itu, apa hakekat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan itu, yang tidak terlepas dari pandangan tentang apa dan bagaiman yang ada (being) itu. Paham idealisme atau spiritualisme, materialisme, dualisme, pluralisme dan seterusnya merupakan paham ontologis yang akan menentukan pendapat dan bahkan keyakinan kita masing-masing tentang apa dan bagaimana kebenaran dan kenyataan yang hendak dicapai oleh ilmu itu membagi ontologi dalam tiga bagian: ontologi bersahaja, ontologi kuantitatif dan kualitatif, serta ontologi monistik.

 

 

C.    Peran Penting Antologi Kimia Dalam Filsafat Ilmu

Bagian yang terpenting dari ilmu kimia adalah mempelajari reaksi kimia, perubahan yang terjadi bila senyawa kimia berinteraksi membentuk suatu senyawa baru yang berbeda. Reaksi kimia merupakan suatu hal yang menakjubkan untuk diteliti dan merupakan bagian yang menyenangkan dari ilmu kimia untuk memperhatikan terjadinya reaksi kimia. Hakekat ilmu kimia adalah benda itu bisa mengalami perubahan bentuk, maupun susunan partikelnya menjadi bentuk yang lain sehingga terjadi deformasi, perubahan letak susunan, ini mempengaruhi sifat-sifat yang berbeda dengan wujud yang semula. Ilmu kimia dikembangkan oleh ahli kimia untuk menjawab pertanyaan “apa” dan “mengapa” tentang sifat materi yang ada di alam. Pengetahuan yang lahir dari upaya untuk menjawab pertanyaan “apa” merupakan suatu fakta bahwa sifat-sifat materi yang diamati sama oleh setiap orang akan menghasilkan pengetahuan deskriptif yang diperoleh dengan merancang percobaan dan melakukan eksperimen. Sedangkan pengetahuan yang lahir untuk menjawab pertanyaan “mengapa” suatu materi memiliki sifat tertentu akan menghasilkan pengetahuan yang teoritis. Pengetahuan ini diperoleh melalui langkah-langkah ilmiah sehingga muncul dan diciptakannya suatu teori. Teori yang telah ditemukan akan terus dibuktikan oleh peneliti lain demi memperkuat teori tersebut atau mungkin menyempurnakannya.

Teori yang sudah mendekati sempurna akan diakui. Berikut adalah bagaimana ilmu kimia dikembangkan. Ilmu kimia merupakan ilmu mengenal bahan kimia. Bahan kimia bukanlah zat abstrak yang perlu ditakuti oleh manusia biasa. Bahan ini mencakup benda yang ada disekitar kita. Ilmu kimia adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari struktur materi, sifat-sifat materi, perubahan suatu materi menjadi materi lain, serta energi yang menyertai perubahan materi. Mempelajari ilmu kimia tidak hanya bertujuan menemukan zat-zat kimia yang langsung bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia belaka, akan tetapi ilmu kimia dapat pula memenuhi keinginan seseorang untuk memahami berbagai peristiwa alam yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, mengetahui hakikat materi serta perubahannya, menanamkan metode ilmiah, mengembangkan kemampuan dalam mengajukan gagasan-gagasan, dan memupuk ketekunan serta ketelitian bekerja.Kimia adalah ilmu tentang materi dan perubahannya. Materi itu sendiri adalah segala sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa. Semua materi berada dalam tiga wujud yaitu, padat, cair dan gas. Hakikat ilmu kimia adalah bahwa benda itu bisa mengalami perubahan bentuk, maupun susunan partikelnya menjadi bentuk yang lain sehingga terjadi perubahan letak susunan yang mempengaruhi sifat-sifat yang berbeda dari wujud/bentuk semula.[4]

Nama ilmu kimia berasal dari bahasa Arab, yaitu al-kimiya yang artinya perubahan materi, oleh ilmuwan Arab Jabir ibn Hayyan. Ini berarti, ilmu kimia secara singkat dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari rekayasa materi, yaitu mengubah materi menjadi materi lain. Secara lengkapnya, ilmu kimia adalah ilmu mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, perubahan serta energi yang menyertai perubahan suatu zat atau materi. Zat atau materi itu sendiri adalah segala sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa Susunan materi mencakup komponen-komponen pembentuk materi dan perbandingan tiap komponen tersebut. Struktur materi mencakup struktur partikel-partikel penyusun suatu materi atau menggambarkan bagaimana atom-atom penyusun materi tersebut saling berikatan. Sifat materi mencakup sifat fisis (wujud dan penampilan) dan sifat kimia. Sifat suatu materi dipengaruhi oleh : susunan dan struktur dari materi tersebut. Perubahan materi meliputi perubahan fisis/fisika (wujud) dan perubahan kimia (menghasilkan zat baru). Energi yang menyertai perubahan materi = menyangkut banyaknya energi yang menyertai sejumlah materi dan asal-usul energi itu. Ini berarti bahwa aspek ontologi dari ilmu kimia adalah:

a.      Konsep kimia, yang berarti kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, perubahan serta energi yang menyertai perubahan suatu materi

b.     Objek studi dari ilmu kimia adalah zat atau materi.

Perubahan ada dua yaitu perubahan fisika dan perubahan kimia. Perubahan fisika adalah perubahan yang tidak menghasilkan zat baru, yang berubah hanyalah bentuk dan wujudnya tanpa mengubah jenis dan sifat zat tersebut. Sedangkan perubahan kimia adalah perubahan yang menghasilkan zat baru, berubah sifat dan susunannya. Benda mati ini apabila mengalami perubahan tidak akan mengubah sifat dan jenisnya, hanya berubah bentuk dan wujudnya saja. Misalnya kayu yang telah di bentuk atau diolah oleh seseorang menjadi kursi atau meja, yang berubah hanyalah bentuk dari kayu itu yang semula berbentuk panjang bulat, setelah diolah berbentuk meja dan kursi yang memiliki kaki, sifat dari benda itu tetap yaitu kayu. Lain halnya dengan benda hidup seperti manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Disini manusia sama halnya dengan perubahan kimia yang mengalami perubahan menghasilkan zat baru, berubah sifat dan bentuknya. Misalnya bayi yang baru lahir dengan bentuk yang kecil dan hanya bisa menangis dan menggerakkan tangan dan kaki, tetapi setelah bayi itu tumbuh dewasa maka otomatis bentuk tubuh dan sifatnya berubah. Energy yang dikeluarkannya juga lebih banyak seiring dengan kegiatan/pekerjaan yang dia lakukan.[5]

 

Kesimpulan

filsafat dapat membantu untuk menemukandan memperlihatkan filsafat tersembunyi sebagai suatu, kebenaran. Sumbangan bagi pengembangan ilmu dan manfaat hasil penelitian bagi masyarakat menentukan nilai hasil penelitian. Hasil penelitian haruslah merupakan sumbangan yang berarti bagi pengembangan disiplin ilmu itu khususnya dan ilmu pengetahuan umumnya, serta dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekarang maupun yang akan datang. ”Kebahagiaan yang sebesar mungkin bagi jumlah manusia yang sebanyak mungkin”- suatu pendirian yang dinamakan hedonisme altruistik atau utilititianisme.

Penelitian ilmiah merupakan upaya untuk mengembangkan ilmu. Apalagi institusi pendidikan yang mengedepankan riset sebagai tolak ukur suatu perkembangan ilmu. Penelitian dalam psikologi tidak akan pernah dapat lepas dari filsafat ilmu dengan landasan ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Penelitian psikologi yang memiliki objek formal jiwa yang dimanifestasikan dalam perilaku menarik untuk dikaji sebagai suatu ilmu. Secara epistemologi, penelitian psikologi tampaknya terjebak dalam sikap positivisme, sehingga banyak penelitian psikologi Bernard Delgauw, Peran Filsafat Ilmu Dalam Penelitian  yang menggunakan pendekatan kualitatif Peneliti psikologi mengkuantifikasi manusia dalam alat ukur, prosedur penelitian dan analisis data, akibatnya psikologi agak kesulitan memahami manusia secara utuh dan menjadi dingin. Namun dengan adanya pendekatan kuantitatif tersebut, psikologi menjadi ilmu yang tidak lagi sebatas pemikiran manusia, tetapi sudah dapat tinggal landas dalam kehidupan nyata sehari-hari.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Baharudin, M.,(2013), Dasar-Dasar Filsafat, Bandar Lampung: Harakindo Publishing  

Soeprapto, (2002), Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta:Liberty

Sehat Sultoni Dalimunthe ,(2011), Filsafat Ilmu,Tembung, Cetakan I

Husaini, Adrian, (2001), Filsafat Ilmu Persfektif Barat dan Islam, Jakarta: Gema Insani

Bertens, K, Panorama, (1987) Filsafat modern, Jakarta: Gramedia

 

 

 

 



[1] Baharudin, M., Dasar-Dasar Filsafat, (Bandar Lampung: Harakindo Publishing 2013),Hlm,34.

[2] Soeprapto, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta:Liberty,2002), Hlm.75.

[3] Sehat Sultoni Dalimunthe ,Filsafat Ilmu(Tembung, Cetakan I,2011),Hlm.56-57.

[4] Husaini, Adrian, Filsafat Ilmu Persfektif Barat dan Islam, (Jakarta: Gema Insani,2001),Hlm.25.

[5] Bertens, K, Panorama Filsafat modern, (Jakarta: Gramedia, 1987), Hlm. 20.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tasawuf dan pengertian nya

islam itu universal

epistemologi filsafat ilmu