ontologi kimia dan sains islam
Ontologi Kimia dan sains islam
Oleh Alwi
ABSTRAK
Ontology is built from the greek roots
“Ontos”which means what exists and “Logos” which mens the study. Globally, the
term ontology can be interpreted as a study of being and by extension of
existence. Ontology studies is the actual state of something, not a temporary
state that is always changing. Ontology is an analysis of material objects from
science, namely empirical matters that discuss about what you want to know,
analyze about the objects studied by science, what is the actual form of the
object, how the relationship between these objects with human capture (for
example: thinking, feeling and sensing) that produces knowledge.
Keywoard: Ontology Kimia dan sains islam
ABSTRAK
Ontologi merupakan analisis tentang objek materi
dari ilmu pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta
mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang
diteliti. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan yaitu sisi
yang mengatur seluruh kegiatan pendidikan. Dengan kata lain, ontologi membahas
apa yang ingin diketahui mengenai teori tentang “ada“ dengan perkataan lain
bagaimana hakikat obyek yang ditelaah sehingga membuahkan pengetahuan. Secara
ontologis, pendidikan Islam merupakan hakikat dari kehidupan manusia sebagai
makhluk berpikir, merasa, mengindra, dan bertindak. Selanjutnya pendidikan
sebagai usaha pengembangan potensi-potensi diri manusia, dijadikan sarana untuk
mendidik dan mengembangkannya. Ontologi pendidikan Islam menyelami hakikat dari
pendidikan Islam, kenyataan dalam pendidikan Islam dengan segala pola
organisasi yang melingkupinya, meliputi hakikat pendidikan Islam dan ilmu
pendidikan Islam, hakikat tujuan pendidikan Islam, hakikat manusia sebagai
subjek pendidikan yang ditekankan kepada pendidik dan peserta didik, dan
hakikat kurikulum pendidikan Islam.
Kata Kunci :Ontologi Kimia dan sains islam
PENDAHULUAN
Ilmu merupakan
bagian dari pengetahuan yang objek telaahnya adalah dunia empiris dan proses
pendapatkan pengetahuannya sangat ketat yaitu menggunakan metode ilmiah. Ilmu
menggabungkan logika deduktif dan induktif, dan penentu kebenaran ilmu tersebut
adalah dunia empiris yang merupakan sumber dari ilmu itu sendiri. Pengetahuan
adalah semua yang diketahui. Ada orang bertanya, mengapa jeruk selalu berbuah
jeruk, tidak pernah berbuah bakso misalnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini
orang tidak dapat lagi mengadakan penelitian empiris karean objek yang hendak
diketahui itu sebenarnya pada bibit atau pohon jeruk itu. Lalu, bagaimana cara
mengetahuinya, bagaimana menjawab pertanyaan tadi? Dengan berpikir, dan hanya
dengan berpikir. Kita menemukan jawaban jeruk selalu berbuah jeruk karena ada hukum
yang mengatur.
Pengetahuan
merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Berbedanya cara dalam
mendapatkan pengetahuan tersebut serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan
tersebut membedakan antara jenis pengetahuan yang satu dengan yang lainnya.
Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama,
manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan
pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan
berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara
berpikir seperti ini disebut penalaran. Penalaran merupakan suatu proses
berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Agar
pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses
berpikir itu harus dilakukan melalui suatu cara tertentu. Suatu penarikan
kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikannya dilakukan
menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika,
di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk
berpikir secara sahih”. Pengetahuan banyak jenisnya, salah satunya adalah ilmu.[1]
A. Ontologi Kimia
Ontologi merupakan salah satu
kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani . Studi
tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang
memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti thales plato
dan aristoteles. penampakan dengan kenyataan.
Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan
bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal
mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin
sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu
itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Hakikat kenyataan atau realitas
memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan
mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
- Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan
(realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang
memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Sains islam
Sains Islam adalah konstruksi sains yang berbasis wahyu (al-Qur’an dan
as-Sunah). Karena itu, Agus Purwanto menawarkan 800 ayat-ayat kauniyah dalam
al-Qur’an untuk dapat dilakukan analisis teks, yang kemudian dilanjutkan dengan
observasi dan eksperimentasi fenomena alam secara langsung dengan menggunakan
metode ilmiah
Menurut al-Qur’an, sains hanyalah alat
untuk mencapai tujuan akhir. Pemahaman seseorang terhadap alam harus mampu
membawa kesadarannya kepada Allah Yang Maha Sempurna dan Maha Tak Terbatas
Di sinilah letak perbedaan antara
konsep Islam dan Barat dalam menyikapi objek ilmu. Bagi Islam objek ilmu itu
meliputi alam fisik dan metafisik. Sedangkan Barat hanya mengakui terbatas pada
alam fisik saja. Di sisi lain, Islam mengakui bahwa ilmu itu bersumber dari
akal atau rasio manusia
Secara sederhana ontologi bisa
dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara
kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni Monisme, Dualisme,
Materialisme, Idealisme, Agnostisisme Monisme: aliran yang mempercayai bahwa
hakikat dari segala sesuatu yang ada adalah satu saja, baik yang asa itu berupa
materi maupun rohani yang menjadi sumber dominan dari yang lainnya. Para
filosof pra-Socrates seperti Thales, Demokritos, dan Anaximander termasuk dalam
kelompok Monisme, selain juga Plato dan Aristoteles. Sementara filosof Modern
seperti Kant dan Hegel adalah penerus
kelompok Monisme, terutama pada pandangan Idealisme mereka. Ontologi merupakan
salah satu diantara lapangan-lapangan penyelidikan filsafat yang paling kuno.
Pertama kali diperkenalkan oleh filosof Yunani bernama Thales atas pernungannya
terhadap air yang terdapat dimana-mana, dan sampai pada kesimpulan bahwa “air
merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu”.
Yang penting bagi kita bukanlah mengenai kesimpulannya tersebut melainkan
pendiriannya bahwa mungkin segala sesuatu berasal dari satu substansi saja.
Dualisme: kelompok ini
meyakini sumber asal segala sesuatu terdiri dari dua hakikat, yaitu
materi(jasad) dan jasmani(spiritual). Kedua macam hakikat itu masing-masing
bebas dan berdiri sendiri, sama-sama abadi dam azali. Perhubungan antara
keduanya itulah yang menciptakan kehidupan dalam alam ini. Contoh yang paling
jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini ialah dalam diri manusia. Descartes
adalah contoh filosof Dualis dengan istilah dunia kesadaran (rohani) dan dunia
ruang (kebendaan). Aristoteles menamakan kedua hakikat itu sebagai materi dan
forma (bentuk yang berupa rohani saja). Umumnya manusia dengan mudah menerima
prinsip dualisme ini, karena kenyataan lahir dapat segera ditangkap panca
indera kita, sedangkan kenyataan batin dapt segera diakui adanya dengan akal
dan perasaan hidup.
Materialisme: aliran ini
menganggap bahwa yang ada hanyalah materi dan bahwa segala sesuatu yang lainnya
yang kita sebut jiwa atau roh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri
sendiri. Menurut pahan materialisme bahwa jiwa atau roh itu hanyalah merupakan
proses gerakan kebendaan dengan salah satu cara tertentu. Materialisme
terkadang disamakan orang dengan naturalisme.Namun sebenarnya
terdapat perbedaan antara keduanya. Naturalisme merupakan aliran filsafat yang
menganggap bahwa alam saja yang ada, yang lainnya di luar alam tidak ada. (Tuhan
yang di luar alam tidak ada). Sedangkan yang dimaksud alam (natural) disana
ialah segala-galanya meliputi benda dan roh. Sebaliknya materialisme menganggap
roh adalah kejadian dari benda, jadi tidak sama nilainya dengan benda.
Filsafat Yunani yang pertama kali
muncul juga berdasarkan materialisme, mereka disebut filsafat alam (natuur
filosofie). Mereka menyelidiki asal-usul kejadian alam ini pada unsur-unsur
kebendaan yang pertama. Thales menganggap bahwa unsur asal itu air. Anaximandros
menganggap bahwa unsur asal itu apeiron yakni suatu unsur yang
tak terbatas. Anaximenes menganggap bahwa unsur asal itu udara. Dan
tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Demokritos menggap
bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya tak dapat dihitung
dan sangat halus. Atom-atom itulah yang menjadi asal kejadian peristiwa alam.
Pada Demokritos inilah tampak pendapat materialisme klasik yang lebih tegas.
Idealisme: idealisme merupakan
lawan dari materialisme yang juga dinamakan spiritualisme. Aliran menganggap
bahwa hakikat kenyataan yang beraneka warna itu semua berasal dari roh (sukma)
atau yang sejenis dengan itu. Intinya sesuatu yang tidak berbentuk dan yang
tidak menempati ruang. Menurut aliran ini materi atau zat itu hanyalah suatu
jenis daripada penjelmaan roh. Alasan yang terpenting dari aliran ini adalah
“manusia menganggap roh lebih berharga, lebih tinggi nilainya dari materi bagi
kehidupan manusia. Roh dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya, sehingga
materi hanyalah badannya, bayangan atau penjelmaan saja. Agnostisisme: pada
intinya Agnostisisme adalah paham yang mengingkari bahwa manusia mampu
mengetahui hakikat yang ada baik yang berupa materi ataupun yang ruhani. Aliran
ini juga menolak pengetahuan manusia tentang hal yang transenden. Contoh paham
Agnostisisme adalah para filosof Eksistensialisme, seperti Jean Paul Sartre
yang juga seorang Ateis. Sartre menyatakan tidak ada hakikat ada (being)
manusia, tetapi yang ada adalah keberadaan (on being)-nya.
Ontologi Ilmu Kimia Ilmu kimia
adalah cabang ilmu sains yang mempelajari struktur materi, sifat-sifat materi,
perubahan suatu materi menjadi materi lain, serta energi yang menyertai
perubahan materi. Ilmu kimia lahir dari keinginan para ahli kimia untuk memperoleh
jawaban atas pertanyaan apa dan mengapa tentang sifat materi yang ada di alam,
yang masing-masing akan menghasilkan fakta dan pengetahuan teoritis tentang
materi yang kebenarannya dapat dijelaskan dengan logika matematika. Materi
adalah segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Susunan materi
mencakup komponen-komponen pembentuk materi dan perbandingan tiap komponen
tersebut. Struktur materi mencakup struktur partikel-partikel penyusun suatu
materi atau menggambarkan bagaimana atom-atom penyusun materi tersebut saling
berikatan. Sifat materi mencakup sifat fisis (wujud dan penampilan) dan sifat
kimia. Sifat suatu materi dipengaruhi oleh: susunan dan struktur dari materi
tersebut. Perubahan materi meliputi perubahan fisis/fisika (wujud) dan
perubahan kimia (menghasilkan zat baru). Energi yang menyertai perubahan materi
sama menyangkut banyaknya energi yang menyertai sejumlah materi dan asal-usul
energi itu. Ini berarti bahwa aspek ontologi dari ilmu kimia adalah: Konsep kimia, yang berarti kimia adalah ilmu
yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, perubahan serta energi yang
menyertai perubahan suatu materi ü Objek studi dari ilmu kimia adalah zat atau materi. Ontologi Pendidikan Kimia Secara umum,
ontologi dalam pendidikan kimia ialah kegiatan membimbing siswa untuk memahami
realita di bidang kimia dan membina kesadaran tentang kebenaran yang berpangkal
atas realita dalam bidang kimia yang merupakan stimulus untuk menyelami
kebenaran yang ada.Dalam jenjang sekolah menengah atas, Kimia menjadi salah
satu cabang ilmu sains yang mulai dipelajari lebih mendalam. Ilmu kimia itu
sendiri juga terbagi menjadi beberapa cabang, diantaranya: Kimia analitik,
yakni ilmu kimia yang mempelajari cara menganalisis suatu zat baik komposisi
maupun strukturnya Kimia organik, yakni
ilmu kimia yang mempelajari struktur, sifat, proses dan reaksi senyawa
organic Kimia anorganik, yaitu ilmu
kimia yang mempelajari tentang sifat dan reaksi senyawa anorganik , Kimia inti,
yaitu ilmu kimia yang mempelajari tentang bagaimana proses terjadinya reaksi
inti Kimia teori, yaitu ilmu kimia yang mengkaji kimia dari aspek teori dengan
dukungan ilmu matematika dan fisika.
Kimia fisik, yaitu ilmu kimia yang mempelajari sifat-sifat fisik pada
proses kimia. Biokimia, yaitu ilmu kimia yang mempelajari sifat, proses dan
aktivitas kimiawi dalam sel hidup (organisme).[2]
B. Ruang Lingkup Ontologi Kimia
Dikatakan ontologi bersahaja sebab segala sesuatu dipandang dalam keadaan
sewajarnya dan apa adanya. Dikatakan ontologi kuantitatif karena
dipertanyakannya mengenai tunggal atau jamaknya dan dikatakan ontologi
kualitatif juga berangkat dari pertanyaan: apakah yang merupakan jenis
kenyataan itu. Sedangkan ontologi monistik adalah jika dikatakan bahwa
kenyataan itu tunggal adanya; keanekaragaman, perbedaan dan perubahan dianggap
semu belaka. Pada gilirannya ontologi monistik melahirkan monisme atau idealisme dan materialisme Ada
beberapa pertanyaan ontologis yang melahirkan aliran-aliran dalam filsafat.
Misalnya pertanyaan: Apakah yang ada itu? (what is being?), bagaimanakah
yang ada itu (how is being?) dan di manakah yang ada itu? (where
is being?). Apakah yang ada itu (what is being ?) Dalam memberikan jawaban
masalah ini lahir empat aliran filsafat, yaitu: monisme, dualisme, idealisme
dan agnotisme. Aliran monisme. Aliran ini berpendapat, bahwa yang ada itu hanya
satu. Bagi yang berpendapat bahwa yang ada itu serba spirit, ideal, serba roh,
maka dikelompokkan dalam aliran monisme-idealisme. Plato adalah tokoh filosuf
yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini, karena ia menyatakan bahwa alam ide
merupakan kenyataan yang sebenarnya.[3]
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan
kefilsafatan yang paling kuno. Sejak dini dalam pikiran Barat sudah menunjukkan
munculnya perenungan ontologis, sebagaimana Thales ketika ia merenungkan dan
mencari apa sesungguhnya hakikat ”yang ada” (being) itu, yang pada
akhirnya ia berkesimpulan, bahwa asal usul dari segala sesuatu (yang ada) itu
adalah air. Ontologi merupakan azas dalam menetapkan batas ruang lingkup
wujud yang menjadi objek penelaahan serta penafsiran tentang hakikat realitas
(metafisika) . Ontologi meliputi permasalahan apa hakikat ilmu itu, apa hakekat
kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan itu,
yang tidak terlepas dari pandangan tentang apa dan bagaiman yang ada (being)
itu. Paham idealisme atau spiritualisme, materialisme,
dualisme, pluralisme dan seterusnya merupakan paham ontologis yang
akan menentukan pendapat dan bahkan keyakinan kita masing-masing tentang apa
dan bagaimana kebenaran dan kenyataan yang hendak dicapai oleh ilmu itu membagi
ontologi dalam tiga bagian: ontologi bersahaja, ontologi kuantitatif dan kualitatif,
serta ontologi monistik.
C. Peran Penting Antologi Kimia Dalam Filsafat Ilmu
Bagian yang terpenting dari ilmu
kimia adalah mempelajari reaksi kimia, perubahan yang terjadi bila senyawa
kimia berinteraksi membentuk suatu senyawa baru yang berbeda. Reaksi kimia
merupakan suatu hal yang menakjubkan untuk diteliti dan merupakan bagian yang
menyenangkan dari ilmu kimia untuk memperhatikan terjadinya reaksi kimia. Hakekat ilmu kimia adalah benda itu bisa mengalami perubahan
bentuk, maupun susunan partikelnya menjadi bentuk yang lain sehingga terjadi deformasi,
perubahan letak susunan, ini mempengaruhi sifat-sifat yang berbeda dengan wujud
yang semula. Ilmu kimia dikembangkan oleh ahli kimia untuk menjawab
pertanyaan “apa” dan “mengapa” tentang sifat materi yang ada di alam.
Pengetahuan yang lahir dari upaya untuk menjawab pertanyaan “apa” merupakan
suatu fakta bahwa sifat-sifat materi yang diamati sama oleh setiap orang akan
menghasilkan pengetahuan deskriptif yang diperoleh dengan merancang percobaan
dan melakukan eksperimen. Sedangkan pengetahuan yang lahir untuk menjawab
pertanyaan “mengapa” suatu materi memiliki sifat tertentu akan menghasilkan
pengetahuan yang teoritis. Pengetahuan ini diperoleh melalui langkah-langkah
ilmiah sehingga muncul dan diciptakannya suatu teori. Teori yang telah ditemukan
akan terus dibuktikan oleh peneliti lain demi memperkuat teori tersebut atau
mungkin menyempurnakannya.
Teori yang sudah mendekati sempurna akan
diakui. Berikut adalah bagaimana ilmu kimia dikembangkan. Ilmu kimia merupakan ilmu mengenal
bahan kimia. Bahan kimia bukanlah zat abstrak yang perlu ditakuti oleh manusia
biasa. Bahan ini mencakup benda yang ada disekitar kita. Ilmu kimia adalah
cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari struktur materi, sifat-sifat
materi, perubahan suatu materi menjadi materi lain, serta energi yang menyertai
perubahan materi. Mempelajari ilmu kimia tidak hanya bertujuan menemukan
zat-zat kimia yang langsung bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia belaka,
akan tetapi ilmu kimia dapat pula memenuhi keinginan seseorang untuk memahami
berbagai peristiwa alam yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, mengetahui
hakikat materi serta perubahannya, menanamkan metode ilmiah, mengembangkan
kemampuan dalam mengajukan gagasan-gagasan, dan memupuk ketekunan serta
ketelitian bekerja.Kimia adalah ilmu tentang materi dan perubahannya. Materi
itu sendiri adalah segala sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa.
Semua materi berada dalam tiga wujud yaitu, padat, cair dan gas. Hakikat ilmu
kimia adalah bahwa benda itu bisa mengalami perubahan bentuk, maupun susunan
partikelnya menjadi bentuk yang lain sehingga terjadi perubahan letak susunan
yang mempengaruhi sifat-sifat yang berbeda dari wujud/bentuk semula.[4]
Nama ilmu kimia berasal dari
bahasa Arab, yaitu al-kimiya yang artinya perubahan materi, oleh ilmuwan Arab
Jabir ibn Hayyan. Ini berarti, ilmu kimia secara singkat dapat diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari rekayasa materi, yaitu mengubah materi menjadi
materi lain. Secara lengkapnya, ilmu kimia adalah ilmu mempelajari tentang
susunan, struktur, sifat, perubahan serta energi yang menyertai perubahan suatu
zat atau materi. Zat atau materi itu sendiri adalah segala sesuatu yang
menempati ruang dan mempunyai massa Susunan materi mencakup komponen-komponen
pembentuk materi dan perbandingan tiap komponen tersebut. Struktur materi
mencakup struktur partikel-partikel penyusun suatu materi atau menggambarkan
bagaimana atom-atom penyusun materi tersebut saling berikatan. Sifat materi
mencakup sifat fisis (wujud dan penampilan) dan sifat kimia. Sifat suatu materi
dipengaruhi oleh : susunan dan struktur dari materi tersebut. Perubahan materi
meliputi perubahan fisis/fisika (wujud) dan perubahan kimia (menghasilkan zat
baru). Energi yang menyertai perubahan materi = menyangkut banyaknya energi
yang menyertai sejumlah materi dan asal-usul energi itu. Ini berarti bahwa
aspek ontologi dari ilmu kimia adalah:
a.
Konsep kimia, yang berarti kimia adalah ilmu yang mempelajari
tentang susunan, struktur, sifat, perubahan serta energi yang menyertai perubahan
suatu materi
b. Objek studi dari ilmu kimia adalah
zat atau materi.
Perubahan ada dua yaitu perubahan fisika dan perubahan kimia.
Perubahan fisika adalah perubahan yang tidak menghasilkan zat baru, yang
berubah hanyalah bentuk dan wujudnya tanpa mengubah jenis dan sifat zat
tersebut. Sedangkan perubahan kimia adalah perubahan yang menghasilkan zat
baru, berubah sifat dan susunannya. Benda mati ini apabila mengalami perubahan tidak akan
mengubah sifat dan jenisnya, hanya berubah bentuk dan wujudnya saja. Misalnya
kayu yang telah di bentuk atau diolah oleh seseorang menjadi kursi atau meja,
yang berubah hanyalah bentuk dari kayu itu yang semula berbentuk panjang bulat,
setelah diolah berbentuk meja dan kursi yang memiliki kaki, sifat dari benda
itu tetap yaitu kayu. Lain halnya dengan benda hidup seperti manusia, hewan dan
tumbuh-tumbuhan. Disini manusia sama halnya dengan perubahan kimia yang
mengalami perubahan menghasilkan zat baru, berubah sifat dan bentuknya.
Misalnya bayi yang baru lahir dengan bentuk yang kecil dan hanya bisa menangis
dan menggerakkan tangan dan kaki, tetapi setelah bayi itu tumbuh dewasa maka
otomatis bentuk tubuh dan sifatnya berubah. Energy yang dikeluarkannya juga
lebih banyak seiring dengan kegiatan/pekerjaan yang dia lakukan.[5]
Kesimpulan
filsafat dapat
membantu untuk menemukandan memperlihatkan filsafat tersembunyi sebagai suatu,
kebenaran. Sumbangan bagi pengembangan ilmu dan manfaat hasil penelitian bagi
masyarakat menentukan nilai hasil penelitian. Hasil penelitian haruslah
merupakan sumbangan yang berarti bagi pengembangan disiplin ilmu itu khususnya
dan ilmu pengetahuan umumnya, serta dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat
sekarang maupun yang akan datang. ”Kebahagiaan yang sebesar mungkin bagi jumlah
manusia yang sebanyak mungkin”- suatu pendirian yang dinamakan hedonisme
altruistik atau utilititianisme.
Penelitian ilmiah
merupakan upaya untuk mengembangkan ilmu. Apalagi institusi pendidikan yang
mengedepankan riset sebagai tolak ukur suatu perkembangan ilmu. Penelitian
dalam psikologi tidak akan pernah dapat lepas dari filsafat ilmu dengan
landasan ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Penelitian psikologi yang
memiliki objek formal jiwa yang dimanifestasikan dalam perilaku menarik untuk
dikaji sebagai suatu ilmu. Secara epistemologi, penelitian psikologi tampaknya
terjebak dalam sikap positivisme, sehingga banyak penelitian psikologi Bernard
Delgauw, Peran Filsafat Ilmu Dalam Penelitian
yang menggunakan pendekatan kualitatif Peneliti psikologi mengkuantifikasi
manusia dalam alat ukur, prosedur penelitian dan analisis data, akibatnya
psikologi agak kesulitan memahami manusia secara utuh dan menjadi dingin. Namun
dengan adanya pendekatan kuantitatif tersebut, psikologi menjadi ilmu yang
tidak lagi sebatas pemikiran manusia, tetapi sudah dapat tinggal landas dalam
kehidupan nyata sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Baharudin, M.,(2013),
Dasar-Dasar Filsafat, Bandar Lampung: Harakindo Publishing
Soeprapto, (2002), Filsafat
Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta:Liberty
Sehat Sultoni
Dalimunthe ,(2011), Filsafat Ilmu,Tembung, Cetakan I
Husaini, Adrian,
(2001), Filsafat Ilmu Persfektif Barat dan Islam, Jakarta: Gema Insani
Bertens, K,
Panorama, (1987) Filsafat modern, Jakarta: Gramedia
[1] Baharudin, M., Dasar-Dasar Filsafat, (Bandar
Lampung: Harakindo Publishing 2013),Hlm,34.
[2] Soeprapto, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar
Pengembangan Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta:Liberty,2002), Hlm.75.
[3] Sehat Sultoni
Dalimunthe ,Filsafat Ilmu(Tembung, Cetakan I,2011),Hlm.56-57.
[4] Husaini, Adrian, Filsafat Ilmu Persfektif Barat
dan Islam, (Jakarta: Gema Insani,2001),Hlm.25.
[5] Bertens, K,
Panorama Filsafat modern, (Jakarta: Gramedia, 1987), Hlm. 20.
Komentar
Posting Komentar